Oleh: U Diar
Awal tahun ini, dunia politik diramaikan dengan konten presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Jalur Gaza. Trump mengusulkan agar warga Palestina dipindah ke Mesir, Yordania, dan kemungkinan negara lain. Dia juga berniat mengambil alih Gaza dan mengubahnya menjadi "Riviera of The Middle East". [1] Respon internasional banyak yang menolak usulan tersebut. Mesir dan sejumlah negara Arab sedang menyusun rencana pembangunan kembali Gaza untuk memastikan warga Palestina tetap berada di wilayah tersebut tanpa harus mengungsi. Dalam rencana tersebut juga ada rencana membangun mekanisme pemerintahan di Jalur Gaza tanpa keterlibatan Hamas.
Dari dalam negeri, dalam pernyataannya melalui media sosial X, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan " Indonesia dengan tegas menolak segala upaya untuk secara paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis Wilayah Pendudukan Palestina".[2] Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menilai ada niat jahat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dibalik upaya merelokasi warga Palestina dan membangun kembali Gaza di bawah kepemilikan AS. Bahkan, Anwar menilai bukan hal mustahil Timur Tengah akan menjadi kuburan ketiga bagi AS. [3] Menurut Anwar, gagasan pemindahan rakyat Gaza akan membuat rakyat Gaza benar-benar angkat kaki dari daerah mereka sendiri sehingga Gaza bisa dikendalikan sepenuhnya oleh Israel dan dijadikan bagian dari Israel Raya. Jika hal itu terjadi, maka rakyat Palestina sudah siap melawan sehingga tidak mustahil Timur Tengah akan menjadi kuburan ketiga bagi AS setelah Vietnam dan Afghanistan.
Peniliti LANSKAP Ainul Mizan, menuliskan memandang konflik Palestina-Israel secara politik akan mengungkapkan grand strategy AS di kawasan tersebut, dengan ringkasan sebagai berikut:
1. Imigrasi Yahudi ke Palestina (1882-1948) tidak sekadar berlandaskan pada doktrin tanah yang dijanjikan, tetapi berdasarkan gerakan politik yang bertujuan mendirikan negara bagi Zion*s di Palestina.
2. Posisi negara Israel sangat strategis bagi kepentingan AS di Timur Tengah, baik secara politik maupun ekonomi.
3. Israel merupakan mitra terbaik AS di Timur Tengah, yang diberikan bantuan dana setiap tahunnya.
4. Ada upaya mempertahankan nation state dengan menciptakan instabilitas di kawasan, lalu AS nantinya akan tampil untuk mengintervensi kebijakan strategis pada negara yang berkonflik.
5. Dimunculkan konteks psikologi politik dalam menyikapi konflik Palestina-Israel, yang pada ujungnya diarahkan pada persetujuan terhadap solusi dua negara
Dari paparan di atas, maka dapat diketahui ambisi Trump atas Gaza adalah bagian dari peta politik AS yang sudah direncanakan sejak lama. Sayangnya tidak semua menyadari kepentingan tersembunyi AS tersebut, sehingga ketika ada usulan solusi konflik Palestina-Israel, yang mengemuka adalah usulan yang tidak jauh-jauh dari arah peta politik utama tersebut meskipun dengan narasi yang berbeda.
Maka dari sini, kaum muslimin setidaknya menyadari bahwa:
Pertama, AS adalah bagian dari pemegang ideologi kapitalisme. Ideologi kapitalisme tidak akan memberikan ruang kepada pesaingnya untuk menang. Setelah memastikan sosialisme runtuh, kapitalisme akan memastikan juga bahwa Islam maupun sosialisme tidak akan pernah bangkit kembali.
Apa kaitannya dengan Timur Tengah? Di kawasan ini dibaca sebagai titik awal lahirnya dakwah Islam ideologis, yang bisa melihat secara mustanir kiprah dan sepak terjang kapitalisme dalam mencengkeram dunia dengan kegelapan. Dakwah Islam ini berpotensi meruntuhkan kapitalisme untuk digantikan dengan Islam. Sehingga segala cara dilakukan untuk menjauhkan pengaruh Islam ini di ranah kekuasaan, terutama di kawasan ini. Mengingat selain penting untuk kontrol politik, kawasan Timur Tengah juga menyimpan potensi ekonomi yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara Barat.
Kedua, menyelesaikan konflik Palestina-Israel haruslah diselesaikan dari akar masalahnya, yakni dengan menggagalkan misi politik pencangkokan negara Zion*s di tanah Palestina. Yang berarti perlu ada pengusiran penjajah dari tanah yang diduduki paksa. Dan untuk keperluan ini diperlukan kekuatan militer yang sebanding atau bahkan lebih besar. Apakah selama ini sudah ada bantuan bagi Palestina secara militer? Apalagi dalam jumlah besar-besaran? Oleh karena itu sangat penting adanya persatuan kaum muslim dalam satu kepemimpinan dunia, yang akan memimpin dan menggerakkan jihad bagi seluruh militer muslim, agar menolong saudaranya yang terdzalimi sebagai bagian dari kewajiban agama.
Kepemimpinan Islam akan memiliki power sebanding yang insyaAllah akan mampu membebaskan Palestina sebagaimana yang pernah terjadi di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab di masa Khulafaur Rasyidin, dan juga Shalahuddin Al-Ayyubi di masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Konsep kepemimpinan seperti ini yang perlu dihadirkan kembali agar negeri-negeri Islam bisa dibebaskan dari kesengsaraan dalam gelapnya kapitalisme.
Untuk itu umat perlu disadarkan agar berkontribusi dalam upaya mengembalikan kejayaan dan kekuatan Islam ke pangkuan kaum muslimin. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penyadaran ini harus mengikuti pada apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dahulu. Yakni dengan mengadakan pembinaan intensif agar umat paham Islam dan menyadari cahayanya sajalah yang bisa menuntun jalan hidup muslim. Kemudian dipahamkan bahwa cahaya Islam redup lantaran ulah musuh Islam dan propaganda gelap mereka, sehingga umat memiliki keteguhan untuk tidak mudah terbuai opini yang mereka aruskan yang sengaja memecah persatuan.
Selanjutnya mereka dilibatkan dalam aktifitas menyeru pada kebenaran dan mencegah kemungkaran secara makruf tanpa kekerasan, termasuk dalam mengungkapkan ada apa dibalik ambisi Trump atas Gaza ini. Sehingga umat memiliki kejernihan sudut pandang atas persoalan sesungguhnya pada konflik Palestina-Israel, dan mereka pun turut menyuarakan solusi hakiki atas permasalahan tersebut. Wallahu a'lam. []
Referensi:
1. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cg5d8eeevplo.amp
2. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c4gpl1wv47xo
3. https://news.detik.com/berita/d-7775819/anwar-abbas-duga-ada-niat-jahat-trump-di-balik-ide-relokasi-warga-gaza/amp
Tidak ada komentar:
Posting Komentar