Recent Posts

Beranda

Facebook

Cari Blog Ini

Random Posts

Recent Posts

Header Ads

Popular Posts

Comments

3-comments

Archive

Latest video-course

1-tag:Videos-800px-video

Campus

4-tag:Campus-500px-mosaic

About

This just a demo text widget, you can use it to create an about text, for example.

Testimonials

3-tag:Testimonials-250px-testimonial

Logo

Logo
Logo Image. Ideal width 300px.

Ads block

Banner 728x90px

Courses

6-latest-350px-course

Search This Blog

Harga Beras Naik, Petani Makin Tercekik?

Kamis, 21 November 2024




Penulis: Munawarah Saleh, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

Bank Dunia merilis bahwa, “Harga beras di Indonesia 20 persen naik dari harga di Pasar Global. Bahkan, harga beras saat ini konsisten tertinggi di kawasan ASEAN. Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Carolyn Turk menilai, tingginya harga beras disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: kebijakan pemerintah terkait pembatasan impor, kenaikan biaya produksi, hingga pengetatan tata niaga melalui non tarif.
Kebijakan yang mendistorsi harga menaikkan harga produk dan mengurangi daya saing pertanian,” ucap Carolyn dalam Indonesia International Rice Conference (IIRC) 2024 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Compas.com/ (Jumat, 20-9-2024). 

Perlu diketahui bahwa tingginya harga beras dalam negeri tak sebanding dengan pendapatan petani lokal. Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang mengatakan bahwa pendapatan rata-rata petani kecil kurang dari 1 dolar AS atau Rp15.199 per hari. Sementara per tahunnya, para petani hanya bisa mencapai pendapatan sebesar 341 dollar AS atau Rp5,2 juta. 

Hal tersebut terlihat dari data Bank Dunia, yang menyebutkan sebanyak 31 persen penduduk Indonesia tak bisa memperoleh makanan sehat dan bergizi akibat harga beras yang semakin naik atau mahal. Seperti telur, daging, sayuran dan Ikan.

Dengan fakta ini, dibutuhkan keseriusan untuk menangani persoalan kenaikan harga beras. Terutama sebagai persiapan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2025. Adanya upaya untuk memastikan keterjangkauan harga beras sebagai sumber gizi masyarakat adalah salah satu langkah atau solusi yang bisa ditempuh.

Beras Naik Petani Tercekik

Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional, Rachmi Widiriani mengatakan, harga beras di Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan negara lain. Apakah kenaikan harga beras akan menguntungkan para petani selaku pemain di lapangan?

Ternyata tidak, alasannya karena biaya produksi beras di dalam negeri juga meningkat. Harga pupuk disamping mahal, juga sulit didapatkan karena subsidi pupuk yang selama ini disediakan oleh pemerintah yang disalurkan melalui kelompok tani, sekarang dikurangi dan itu sangat jauh dari apa yang dibutuhkan para petani. Alhasil, para petani pada akhirnya mengusahakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pupuk yang bukan subsidi, dengan harga yang tinggi. Tentu saja hal demikian semakin mencekik rakyat terkhususnya para petani.

Kenaikan harga beras yang ada dalam negeri jelas tidak menguntungkan para petani, karena akan habis menutupi biaya produksi yang dikeluarkan. Ini menjadi bukti ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kesulitan hidup yang dialami masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab para oligarki telah berhasil menguasai sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Sementara negara tidak memberikan bantuan yang cukup kepada petani dan mereka pun harus berusaha sendiri meski dengan modal yang sedikit.

Solusi Masalah Kenaikan Harga Beras ala Kapitalisme 

Adapun solusi untuk mengatasi masalah  kenaikan harga adalah dengan meningkatkan kualitas benih.  Penggunaan benih berkualitas diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang dapat menstabilkan harga beras. Selain itu, efisiensi produksi juga perlu diterapkan dengan meningkatnya produktivitas, petani akan meraih dua keuntungan yakni harga yang baik dan pendapatan yang meningkat. 

Kita harus menyadari bahwa metode tradisional pertanian dan distribusi mungkin tidak cukup menghadapi tantangan yang terus berkembang. Sehingga dibutuhkan solusi inovatif berkelanjutan dan kolaboratif demi mengamankan masa depan beras dan mengatasi tantangan global ini.

Sementara itu, hal lain yang menyebabkan kenaikan harga beras yakni pembatasan impor beras yang dilakukan oleh negara dan adanya ritel atau retail menguasai bisnis beras yang dapat memainkan harga. Situasi ini jelas akan menguntungkan para oligarki dan sebaliknya, justru merugikan para petani. Inilah dampak diterapkannya 
sistem sekuler kapitalisme. Negara hanya berperan sebagai regulator dan berpihak kepada oligarki.

Solusi Kenaikan Harga Beras dalam Sistem Islam 

Berbeda dalam sistem Islam yang disebut Khilafah. Di mana negara akan menghadirkan pemimpin sebagai perisai bagi seluruh rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Ia akan dijadikan perisai saat orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan adil, maka dengannya, ia akan mendapatkan pahala. Namun, jika ia memerintahkan yang lain, maka ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Khalifah dalam sistem Islam akan bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya, sehingga segala sesuatu yang dibutuhkan oleh mereka akan terpenuhi, salah satunya adalah terkait pertanian dengan menyediakan lahan untuk ketahanan pangan (beras), pengadaan alat-alat untuk mendukung pertanian yang canggih, pupuk yang terjangkau, pengembangan bibit unggul dan meningkatkan kemampuan petani agar makin ahli. Tentu dengan penyediaan secara gratis oleh negara. 

Negara benar-benar hadir untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Negara Islam menjadikan ketahanan dan kedaulatan pangan sebagai salah satu basis pertahanan negara dan basis mensejahterakan rakyatnya. Negara akan melakukan seluruh upaya untuk mewujudkannya sesuai dengan sistem ekonomi Islam dalam bingkai Khilafah.

Wallahu a'lam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar